LAPORAN DAM BILI BILI

Posted: March 1, 2011 in Materi Kuliah

1. DAM BILI-BILI


Gambar.1.1. Dam Bili-Bili

Bendungan Bili-bili merupakan bendungan terbesar di Sulawesi Selatan yang terletak di Kabupaten Gowa, sekitar 30 kilometer ke arah Timur Kota Makasar Bendungan ini diresmikan pada tahun 1989. Benduangn dengan waduk 40.428 ha ini dibangun dengan dana pinjmanan luar negeri sebesar Rp. 780 miliar kerja sama dengan Japan International Cooperation Agency ( JICA). Bendungan Bili-bili menjadi sumber air baku bagi Perusahaan daerah Aliran Minum ( PDAM) Gowa dan Makassar bermanfaat sebagai pengendali banjir Sungai Jeneberang dari debit 2.200 meter kibek per detik menjadi 1.200 meter kibek per detik. Bendungan ini juga berfungsi sebagai PLTA dengan kapasitas 16,3 Meter. Namun, bila hujan, lumpur ekslongsor di kaki Gunung Bawakaraeng mengalir masuk ke waduk Bili-bili hingga air baku menjadi keruh.

Jika tingkat tidak mampu lagi dijernihkan istalasi Penjernihan Air (IPA) PDAM Gowa dan Makasar
Bendungan ini dibangun dengan tujuan sebagai tanggul panahan air, sabagai PLTA (PembangkitTenagaListrik), sabagai PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum), dan irigasi atau pengairan sawah . Beberapa permasalahan lingkungan yang ditemukan seperti pencemaran air yang disebabkan oleh sampah-sampah yang berserakan disekitar bendungan Bili-bili, hal tersebut terjadi karena kurangnya kesadaran manusia yang membuang sampah sembarangan. Permasalahan lain yang di temukan adalah udara yang semakin panas yang disebabkan oleh adanya penggundulan gunung di sekitar bendungan Bili-bili. Pada dasarnya, solusi berbagai permasalahan harus dari kesadaran masyarakat untuk dapat melestarikan seperti mengadakan reboisasi atau penghijauan dan membuang sampah pada tempatnya.

2. PERTAMBANGAN PASIR

Gambar.1.2. Pertambangan Pasir.
Pertambangan dapat menciptakan kerusakan lingkungan yang serius dalam suatu kawasan/wilayah. Potensi kerusakan tergantung pada berbagai faktor kegiatan pertambangan dan faktor keadaan lingkungan. Faktor kegiatan pertambangan antara lain pada teknik pertambangan, pengolahan dan lain sebagainya. Sedangkan faktor lingkungan antara lain faktor geografis dan morfologis, fauna dan flora, hidrologis dan lain-lain.
Kegiatan pertambangan mengakibatkan berbagai perubahan lingkungan,
antara lain perubahan bentang alam, perubahan habitat flora dan fauna, perubahan
struktur tanah, perubahan pola aliran air permukaan dan air tanah dan sebagainya.
Perubahan-perubahan tersebut menimbulkan dampak dengan intensitas dan sifat
yang bervariasi. Selain perubahan pada lingkungan fisik, pertambangan juga
mengakibatkan perubahan kehidupan sosial, budaya dan ekonomi.

Dari uraian di atas, dapat dikemukakan unsur-unsur pertambangan
Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan dampak pertambangan
terhadap lingkungan sangat penting. Keterlibatan masyarakat sebaiknya berawal
sejak dilakukan perencanaan ruang dan proses penetapan wilayah untuk
pertambangan. Masyarakat setempat dilibatkan dalam setiap perencanaan dan
pelaksanaan usaha pertambangan serta upaya penanggulangan dampak yang
merugikan Pemerintah Daerah bertanggung jawab terhadap pengawasan pelaksanaan
keterlibatan masyarakat.Maupun upaya peningkatan dampak yang menguntungkan
Dampak fisik lingkungan dengan adanya kegiatan penambangan pasir di
Desa tersebut adalah hilangnya sebagian lapisan tanah karena tanah yang diruntuhkan
sebelum pasir tidak disimpan atau disendirikan tetapi dicampur dengan pasir yang ada
untuk dijual. Hilangnya lapisan tanah menyebabkan kesuburan tanah hilang
sehingga tanah tidak produktif lagi dan berubah menjadi lahan kritis

3.PERKEBUNAN TEBU

Gambar.1.3. Perkebunan Tebu

Perkebunan tebu terletak di desa kanu sekitar 15 km dari dam bili-bili. Perkebunan tebu tersebut sudah tidak lagi di fungsikan sebagaimana fungsinya. Menurut pengakuan penduduk setempat lahan tebu tersebut sudah beberapa tahun terakhir tidak aktif lagi semenjak pemilik lahanya pergi. Masyarakat setempat memanfaatkan lahan kosong tersebut dengan di jadikannya lahan untuk menanam pisang, kacang, singkong dan tumbuh-tumbuhan lainnya, yang dapat di manfaatkan oleh penduduk setempat.

4.POHON PINUS

Gambar.1.4. Pohon Pinus.
Malino merupakan kawasan wisata yang memiliki panorama alam yang sangat menakjubkan. Di kawasan yang berada di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut ini terdapat Hutan Wisata Malino atau yang lebih dikenal dengan sebutan Hutan Pinus yang terdiri dari deretan pohon pinus yang tumbuh sumbur, kokoh dan rindang. Selain itu, di kawasan ini juga terdapat perkebunan markisa yang menghasilkan minuman khas Kota Malino, yaitu jus markisa. Dengan nuansa pegunungan yang indah, hamparan pohon pinus yang rindang, deretan pohon markisa, serta udara yang sejuk dan segar, menjadikan kawasan ini ramai dikunjungi oleh para wisatawan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara, terutama pada hari-hari libur.
Didaerah ini pohon pinus yang menjadi pusat keindahan malino. Didaerah ini banyak di fungsikan dalam beberapa hal.Misalnya sebagai area outbond. Masyarakat disekitar daerah tersebut memanfaatkannya untuk berdagang. Salah satu mata pencaharian yang memberikan kehidupan bagi penduduk setempat. Didaerah tesebut terdapat sawah terasering yang fungsinya untuk mencegah terjadinya erosi..

Comments
  1. alfian syah says:

    thanks… penjelasannya..

  2. kimbum says:

    gang…. bisa tambah tambah ki fotonya di dam bili bili na… thanks sebelumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s